entahla
seperti yang pernah kau katakan kepada malam yang dingin , tentang doa yang setiap waktu terpanjatkan dari lisanmu, aku mengerti meski adakalanya aku berhenti mengerti,
kepada langit kau terus melemparkan mantra doa sampai kepada ombak dini hari,, langit seakan menangisi rapuhnya harapan yang hingga saat ini tak pernah terdengar lagi dari lisanmu,,
seperti yang selalu kamu lakukan setiap subuh hari, setelah air wudhu menyentuh tiap sendi-sendi tubuh berbalut kain putih dan peci ciri khasmu, kakimu tak henti melangkah meski kau tak tahu kemana arah kau tujuh, laksana ikan ditengah lautan lepas tak terarah tak tertuju, selalu mencari ketenangan batin,,
tapi sampai saat ini setiap subuh hari setelah air wuduh menyentuhmu , kakimu seperti terpenjara oleh pesakitan yang mencengkram erat melilit logikamu dalam sangkar kecil ,,
lalu tangisanmu pecah ketika kakimu berusaha merontah , merontah lebih kencang , namun sayang engkau tetap terkungkung sangat dalam hingga membuat kakimu makin terpenjarakan pesakitan,,
langit seakan meneteskan airmatanya,
penaku pun hampir habis tintanya menuliskan betapa kesedihan yang mendalam atas perginya jiwa-jiwa yg duluh kokoh , kepada jiwa yang tangguh,
lisan yang duluh akrab dengan wejangan doa, terkikis oleh amarah yang menderu,
kepada langit yang dulu menjadi kawanmu telah kau benci
kepada subuhpun enggan kau sapa
yang tersisah tinggal getirnya
kini tintaku pun telah habis menuliskan betapa pilunya jiwa-jiwa hanya karena sayatan kecil ,,
kepada langit kau terus melemparkan mantra doa sampai kepada ombak dini hari,, langit seakan menangisi rapuhnya harapan yang hingga saat ini tak pernah terdengar lagi dari lisanmu,,
seperti yang selalu kamu lakukan setiap subuh hari, setelah air wudhu menyentuh tiap sendi-sendi tubuh berbalut kain putih dan peci ciri khasmu, kakimu tak henti melangkah meski kau tak tahu kemana arah kau tujuh, laksana ikan ditengah lautan lepas tak terarah tak tertuju, selalu mencari ketenangan batin,,
tapi sampai saat ini setiap subuh hari setelah air wuduh menyentuhmu , kakimu seperti terpenjara oleh pesakitan yang mencengkram erat melilit logikamu dalam sangkar kecil ,,
lalu tangisanmu pecah ketika kakimu berusaha merontah , merontah lebih kencang , namun sayang engkau tetap terkungkung sangat dalam hingga membuat kakimu makin terpenjarakan pesakitan,,
langit seakan meneteskan airmatanya,
penaku pun hampir habis tintanya menuliskan betapa kesedihan yang mendalam atas perginya jiwa-jiwa yg duluh kokoh , kepada jiwa yang tangguh,
lisan yang duluh akrab dengan wejangan doa, terkikis oleh amarah yang menderu,
kepada langit yang dulu menjadi kawanmu telah kau benci
kepada subuhpun enggan kau sapa
yang tersisah tinggal getirnya
kini tintaku pun telah habis menuliskan betapa pilunya jiwa-jiwa hanya karena sayatan kecil ,,
Komentar